Teknik Memanfaatkan "Engine Brake" Mobil Matik14 Desember 2009
Artinya, pengemudi tak perlu lagi capek menginjak kopling untuk ganti
gigi. Pada mobil dengan transmisi manual, untuk pindah gigi, kopling
harus ditekan.
Kenyataan lain, dari seluruh sistem kontrol
mobil yang harus dioperasikan pengemudi, kopling adalah yang paling
banyak menyita tenaga. Di samping itu, tingkat pengoperasiannya juga
sangat tinggi, terutama bila jalan macet atau padat merayap!
Cepat habis Kendati
demikian, ternyata masih banyak di antara kita yang masih berasumsi
negatif terhadap transmisi otomatik. Hal ini juga diakui oleh produsen
mobil. Misalnya, bila mogok, mobil dengan transmisi otomatik tidak bisa
didorong. Kalau sering digunakan di daerah pergunungan, rem cepat
habis.
Semua itu asumsi masa lalu. Kini, semakin banyak
transmisi otomatik, maka produsen menyediakan mekanik yang memiliki
kemampuan lebih cepat untuk memperbaikinya bila ada masalah. Malah,
kini juga ada bengkel-bengkel umum yang bisa menguras seluruh automatic transmission fluid (ATF) di dalam transmisi dan lantas diisi dengan pelumas yang benar-benar baru dan bersih.
Pada
mobil sekarang, khususnya yang menggunakan sistem injeksi, bila baterai
soak, maka mesin tidak akan bisa hidup. Pasalnya, komputer mesin
mendapatkan energi dari baterai. Karena itu, posisi transmisi manual
dan otomatik sama saja!
Lantas, mengenai anggapan bahwa rem
boros saat mobil matik melaju di daerah yang banyak turunan,
dipastikan, kondisi itu terjadi karena pengemudi terlalu santai,
membiarkan transmisi pada posisi “D” saja. Padahal, D adalah gigi
tertinggi.
Tetap bekerja Untuk mengurangi beban kerja rem, pengemudi harus memanfaatkan efek engine brake
dengan menggunakan gigi yang lebih rendah. Dalam hal ini, bisa saja “2”
atau kalau lebih curam dan licin, harus “L”. Sama dengan gigi rendah, 3
atau 2 pada transmisi manual. Adapun untuk berakselerasi, pengemudi
harus melakukan kick down atau menginjak pedal gas dengan cepat!
Jadi,
mengemudi dengan transmisi otomatik bukan berarti tangan tidak bekerja
sama sekali. Pada kondisi medan tertentu, 3, 2, dan L harus digunakan.
Tangan masih harus aktif. Hanya kaki kiri yang benar-benar santai. Tak
perlu injak kopling sama sekali. Misalnya saat di jalanan yang menurun
atau berakselerasi saat di tanjakan!
Malah, pada kondisi macet,
dengan melepaskan pedal rem dan transmisi pada posisi “D”, mobil bisa
merangkak tanpa harus menginjak rem.
Kalau sudah merasakan
enaknya transmisi otomatik, terutama bagi mereka yang menyetir sendiri,
sering melewati jalanan macet, dan punya tingkat mobilitas yang tinggi,
mereka dipastikan tak akan mau kembali ke manual kalau tidak terpaksa.
Malah, mereka rela mengeluarkan biaya tambahan, baik untuk transmisinya
yang lebih mahal plus konsumsi bahan bakar yang sedikit lebih banyak
dibandingkan manual! (diambil dari: KOMPAS.com)
|